TIDUR SAMBIL MENYALAKAN LAMPU, BERBAHAYAKAH?

Sleep with light on

Tidur merupakan kebutuhan alamiah seorang manusia. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan tidur (istirahat). Pada dasarnya sel, jaringan dan organ kita memiliki waktu kapan mereka harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Bilamana mereka harus kontraksi dan bilamana mereka dapat relaksasi atau dilatasi. Begitu pula tubuh kita, yang terdiri atas banyak sel, jaringan dan organ, tidak dapat diforsir untuk bekerja mencari harta selama 24 jam terus menerus.

Istirahat dan tidur berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh kita. Apabila kita memiliki waktu tidur yang kurang, tubuh kita memiliki risiko mengidap beberapa penyakit seperti ginjal, jantung, stroke, tekanan darah tinggi, diabetes dan stress. Beberapa hormone penting juga memiliki ritme sikardiannya masing-masing. Kurangnya tidur seseorang dapat mengganggu ritme sikardian yang dapat mengakibatkan tubuh kita menjadi kurang fit.

Kalau berbicara tentang tidur, mungkin kita pernah dinasihati oleh orang jaman dulu untuk mematikan lampu tidur kita alias tidur dalam keadaan gelap atau remang-remang. Yap, jangan remehkan perkataan orang jaman doeloe, guys. Kita sebagai anak muda zaman now biasanya akan menolak mentah-mentah apa yang dikatakan oleh orang lain tanpa adanya bukti yang nyata. Hal ini sebenarnya merupakan trend yang positif, karena kita diajak untuk berpikir secara ilmiah.

Berikut kami paparkan beberapa penjelasan dan fakta seputar bahaya tidur dengan cahaya

Menghambat Produksi Hormone Melatonin

Penelitian yang dilakukan oleh Joshua, dkk., (2010) membuktikan bahwasanya apabila kita tidur dalam pencahayaan ruangan dapat menghambat secara kuat kadar melatonin dalam tubuh sehingga memperpendek sensasi durasi malam yang dirasakan oleh tubuh. Dengan demikian, adanya paparan cahaya secara terus menerus selama tidur dapat mengganggu ritme produksi melatonin tubuh yang berpotensi mempengaruhi homeostatis tidur, thermoregulasi, tekanan darah dan kadar glukosa dalam tubuh.

Menurunkan Kualitas Tidur Lelap

Menurut Jounhong, dkk., (2013), adanya paparan cahaya ketika kita tidur dapat menyebabkan shallow sleep (berkaitan dengan bangun yang lebih sering di tengah malam sehingga mengurangi jam efektif tidur lelapnya) dan merangsang syaraf yang berkaitan dengan gairah dan efek persisten pada osilasi (gerak harmonik sederhana) otak. Oleh karena itu, orang yang memiliki waktu shallow sleep yang dominan dibandingkan deep sleep akan masih merasa kelelahan meskipun ia sudah merasa tidur dengan waktu yang cukup.

Dapat Menyebabkan Obesitas

Penelitian yang diterbitkan American Journal of Epidemiology menunjukkan bahwa wanita yang tidur dengan cahaya terang akan cenderung memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dan ukuran lingkar pinggang yang lebih besar daripada wanita yang tidur dalam keadaan gelap.

Dapat Menyebabkan Diabetes Melitus Tipe 2

Salah satu penelitian dalam jurnal Chronobiology International menyebutkan fakta bahwasanya orang dengan diabetes mendapatkan cahaya yang lebih terang selama empat jam sebelum tidur. Paparan cahaya ini juga dapat berasal dari televise atau handphone, karena alat elektronik tersebut telah terbukti dapat menekan hormon melatonin daripada sumber cahaya lain.

So, udah jelas kan.. Mengapa kita dilarang untuk menyalakan lampu ketika hendak dan saat tidur.

Daftar pustaka

Joshua, dkk., 2010, lihat doi: 10.1210/jc.2010-2098

Jounhong, dkk., 2013, lihat http://dx.doi.org/10.1016/j.sleep.2013.09.007

Advertisements

Kulit Jeruk Disulap Jadi Shampoo

Kulit jeruk yang selama ini tak termanfaatkan disulap oleh mahasiswa UNY menjadi sampo antiketombe. Selain murah, sampo ini alami dan tidak mengandung bahan kimia.

Sampo merupakan satu kebutuhan penting bagi masyarakat, utamanya sampo antiketombe. Di pasaran telah banyak beredar sampo pencuci rambut, namun beberapa ada yang mengandung bahan kimia. Sehingga banyak yang beralih memakai sampo herbal lantaran dianggap lebih murah dan sedikit efek samping.

Saat ini belum ada produk sampo herbal yang menggunakan kulit jeruk nipis sebagai bahan utamanya. Padahal kulit jeruk nipis memiliki unsure senyawa yang dapat menghilangkan ketombe. Di antara kandungan kulit jeruk nipis adalah limonene, linanin asetat, asam sitrat, minyak atisiri, sulphur, fosfor, dan vitamin C. Menengok kenyataan itu, mahasiswa UNY yang diketuai oleh Nurul Hidayah membuat sampo kulit jeruk yang disingkat “skuter”

“Skuter merupakan sampo herbal antiketombe dengan bahan utama kulit jeruk nipis yang aman dan alami. Ditambah bahan lain seperti natrium laurel sulfat, akuades, natrium bikarbonat, metal paraben dan fragrance,” kata Nurul, sapaan akrabnya pada Jumat (4/9).

Dia menjelaskan bahwa untuk membuat Skuter dibutuhkan bahan utama kulit jeruk nipis, serta beberapa peralatan berupa blender, pisau, gelas kaca, pengaduk, sendok, alat pengukur pH, saringan ember, sikat, corong dan papan. Cara pembuatannya pun tidak rumit.

“Mula-mula kulit jeruk nipis dicuci bersih dan dipotong menjadi potongan lebih kecil. Kemudian dihaluskan menggunakana blender dengan menambahkan akuades sebanyak 60 ml. Kulit jeruk nipis yang sudah dihaluskan kemudian disaring menggunakan kain saring sehingga diperoleh sari jeruk nipis. Sari jeruk nipis sebanyak 60 ml dimasukkan ke dalam blender yang bersih dan ditambahkan metal paraben sebanyak 1 gram. Setelah sari jeruk nipis dan metal paracen dicampur rata, tinggal menambahkan natirum bikarbonat sebanyak 2 gram, natirum laurel sulfat sebanyak 30 gram, dan fragrance sebanyak 2 tetes atau 0,1 ml,” jelas Nurul.

Nurul melanjutkan, setelah semua bahan tercampur hingga mengental, cairan tersebut didiamkan di dalam wadah yang rapat selama satu hari. Hal tersebut bertujuan agar tingkat kekentalan sampo lebih berkualitas dan sampo memiliki pH sesuai standard sampo.

Sementara anggota tim lainnya, Anggrahini Dwi Puspitosari mengungkapkan, Kulit Jeruk Disulap Jadi Sampo Skuter dikemas dalam botol plastik ukuran 100 ml dan dijual dengan harga sembilan ribu rupiah. Hingga bulan Agustus 2015 ini telah diproduksi sebanyak 1.180 botol dan sudah laku di pasaran sebanyak 1.149 botol sampo.

Sumber : tribun jogja (5/9)

Sejarah Singkat Fakultas Farmasi UGM

Halo guys, pada tau kan Fakultas Farmasi UGM? Tahu nggak sejarah berdirinya? Baca dulu sini yang ngaku pharmachist lulusan UGM

gedung-kimia-farmasi-ugm.jpg

Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada didirikan oleh Kementrian Kesehatan RI apda tanggal 27 September 1946 dengan nama Perguruan Tinggi Ahli Obat (PTAO) dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari kelahiran Fakultas Farmasi UGM. Perguruan tinggi ini bergabng dalam gabungan perguraun tinggi-perguruan tinggi ang terdiri dari Perguruan Tinggi Kedokteran, Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi, Perguruan Tinggi Pertanian dan Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan yang semuanya diketuai oleh Prof. Dr. M. Sardjito dan berkedudukan di Kompleks RSU Tegalyoso, Klaten. Pada waktu peristiwa pemberontakan PKI Moeso serta aksi militer oleh tentara Belanda ke-2 maka pada tanggal 19 Desember 1948 perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut terpaksa menghentikan kegiatan akademisnya. Para dosen dan mahasiswa banyak yang bergabung dengan tentara untuk ikut bergerilya atau bergabung dalam tim Palang Merah.

Setelah persetujuan Roem-Van Royen pada tanggal 7 Mei 1949 ada pemikiran bahwa sebaiknya Perguruan Tinggi dihidupkan kembali. Pada tanggal 20 Mei 1949 diadakan rapat Panitia Perguruan Tinggi di Pendopo Kepatihan. Prof. Sardjito sebagai ketua perguruan tinggi di Klaten menyanggupi untuk menyusun perguruan tinggi yang direncanakan, beliau kemudian meminta tempat di Yogyakarta. Atas kemurahan hati Sri Sultan Hamengkubuwono IX, beberapa bangunan milik Kraton Yogyakarta antara lain Mangkubumen dapat dipakai sebagai tempat perguruan tinggi yang dibentuk.

Berkat bantuan yang sangat besar dari Wakil Presiden RI Drs. Moh. Hatta, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Ki Mangun Sarkoro, Menteri Kesehatan Dr. Soerono dan Prof. Soetopo, Menteri Keuangan Lukman Hakim, Menteri Perhubungan dan Pekerjaan Umum Ir. Laoh dan Ir. Sitompul, Menteri Kemakmuran dan Pertanian I.J. Kamiso dan Sadjarwo SH dan Sekretaris Jendralnya Mr. Hadi, Ir. Putuhena dan Ir. Goenoeng, Perguruan tinggi tersebut dibuka kembali tanggal 1 November 1949. Pada saat itu di Yogyakarta sudah ada Sekolah Tinggi Teknik dan Sekolah Hukum milik Yayasan Bali Perguruan-Perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tinggi menjadi suatu Universitas dibawah Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP&K). Gagasan tersebut terlaksana dengan dibukanya Universitas Negeri Gadjah Mada (UNGM) oleh Kementrian PP&K pada tanggal 19 Desember 1949 dan sekarang ditetapkan sebagai hari ulang tahun UGM Yogykarta.

Sementara itu PT Kedokteran, PT Kedokteran Gigi dan PT Farmasi masih dibawah kementrian kesehatan. Melalui PP no. 37 tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950 yang ditandatangani oleh Mr. Assat sebagai Presiden RI sementara, Ki Mangun Sarkoro sebagai Menteri PP&K dan KRT. E. Pringgodigdo sebagai menteri kehakiman, pemerintah NKRI menegaskan bahwa UNGM termasuk dalam lingkungan Kementrian PP&K. Istilah perguruan tinggi diubah menjadi fakultit  yaitu fakultas kedokteran, kedokteran gigi, dan farmasi. pada tahun 1954 pemerintah memutuskan untuk menyeragamkan istilah fakultit dan universitit menjadi fakultas dan universitas. Yayasan balai perguruan tinggi Gadjah Mada milik swasta tidak ada lagi sehingga perkataan Negeri pada UNGM dihapus menjadi UGM.

Tingkat promovendus (tingkat 1) perkuliahan di Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi (FKKGF) masih digabung menjadi satu, dengan dosen-dosen yang sama, akan tetapi pertanyaan ujiannya berbeda. Dalam perkembangan selanjutnya ketiga bidang tersebut dipisahkan menjadi fakultas. Diawali dengan Fakultas Farmasi pada tanggal 19 Desember 1955 berdasarkan SP Menteri PP&K no. 53759/-Kab, kemudian fakultas kedokteran gigi pada tanggal 29 Desember 1969 berdasarkan SP Menteri PP&K no. 1090741/UU. Meskipun fakultas-fakultas telah berdiri sendiri akan tetapi perkuliahan tetap menjadi satu di Mangkubumen, sehingga pada saat itu dikenal istilah MAMACONGA (Masyarakat Mahasiswa Complex Ngasem).

Pada waktu dipisahkan dari FKKGF, Fakultas Farmasi belum mempunyai tenaga pengajar tetap dan oleh karena itu pengurusnya dijabat oleh tenaga tidak tetap, sebagai dekan pertama adalah Prof. Drs. R. Sardjono (dari fakultas Kedokteran) dan sebagai sekretaris Prof. Ir. Gembong Soetoto Tjitrosoepomo (dari fakultas Pertanian). Baru mulai taun 1963 Fakultas Farmasi mempunyai dosen tetap.

Pertama UGM berdiri fakultas-fakultasnya masih tersebar di Yogyakarta, kemudian oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX diberi tanah di Bulaksumur, Sekip dan Karangmalang untuk didirikan perguruan tinggi. Mulai saat itu sedikit demi sedikit fakultas-fakultas pindah ke lokasi baru. Sebagian dari Fakultas Farmasi pada tahun 1968 pindah ke Karangmalang bersama dengan Fakultas Kedokteran Gigi, Bagian Fisiologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran, dan sebagian Fakultas Ilmu Budaya. Pada tahun 1973 Fakultas Farmasi mulai menempati tempat barunya di Sekip Utara hingga sekarang. Walaupun demikian karena kesulitan staf pengajar yang Apoteker, maka tingkat doktoral (tingkat akhir program S1) dan tingkat apoteker masih diselenggarakan di Semarang karena pada waktu itu di Semarang yang tersedia tenaga Apoteker sebagai staf pengajar. Baru tahun 1977 seluruh proses belajar-mengajar di Fakultas Farmasi bisa diselenggarakan dalam satu kampus di Sekip Utara Yogyakarta.

———————————————-

sumber : panduan akademik Fakultas Farmasi UGM tahun 2014